It's just me and my thought..

Tentang ISBN (International Standard Book Number)

10 September 2013, saya dan beberapa teman kantor, menghadiri “Temu Wicara KDT, ISBN, dan ISMN dengan Penerbit dan Pengusaha Rekaman” di hotel Aryaduta, Jakarta Pusat. Acara ini diadakan oleh Perpustakaan Nasional RI dengan narasumber Kepala Direktorat Deposit Bahan Pustaka Perpusnas, Sekretaris IKAPI Pusat, Kepala Subdirektorat Bibliografi Perpusnas, dan Tim ISBN Perpusnas.

Modal ngeteng naik angkutan, berangkatlah saya pagi itu. Dari kosan naik angkot, turun di perempatan Pejaten Village.  Jam 8 lewat 5 menit gue lari-lari naik-turun tangga ngejar P20 AC di Halte TJ Buncit Indah. Syukurlah masih kekejar.. xD

Perjalanan yang saya kira bakal diisi dengan desak-desakan ala Kopaja 63 dan kemacetan tak terkira (*iye, lebay :p) ternyata jauh dari perkiraan saya. Penumpangnya gak banyak. Di Halte Setiabudi Utara AINI, saya udah duduk manis dan gak keringetan karena ACnya cukup terasa. Jam 9 kurang 5 menit, sampailah saya di hotel Aryaduta. Yep, Buncit – Tugu Tani memakan waktu 50 menit saja! Hehe..

Pengantarnya cukup deh.. 😀

Berikut poin-poin penting yang saya dapatkan dari Temu Wicara tersebut:

  • ISBN (International Standard Book Number) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Oleh karena itu, satu nomor ISBN untuk satu buku akan berbeda dengan nomor ISBN untuk buku yang lain.
  • Manfaat ISBN:
    1. Memudahkan pencarian data (jumlah judul buku yang terbit, jumlah penerbit, data penerbit, dsb)
    2. Memberikan identitas terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit
    3. Membantu memperlancar arus distribusi buku karena dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku
    4. Sarana promosi bagi penerbit karena informasi pencantuman ISBN disebarkan oleh Badan Nasional ISBN Indonesia di Jakarta, maupun Badan Internasional yang berkedudukan di London.
  • Struktur ISBN:

Nomor ISBN terdiri dari 13 digit dan dibubuhi huruf ISBN di depannya. Nomor tersebut terdiri atas 5 (lima) bagian. Masing-masing bagian dicetak dengan dipisahkan oleh tanda hyphen (-). Kelompok pembagian nomor ISBN ditentukan oleh struktur sebagai berikut:

    • Angka pengenal produk terbitan buku dari EAN (Prefix identifier) = 978
    • Kode kelompok (group identifier) = 602 (Default)
    • Kode penerbit (publisher prefix) = 8519
    • Kode Judul (title identifier) = 93
    • Angka pemeriksa (check digit) = 9

Contoh : ISBN 978-602-8519-93-9

  • Pencantuman ISBN:
    • ISBN ditulis dengan huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca. Singkatan ISBN ditulis dengan huruf besar mendahului penulisan angka pengenal kelompok, pengenal penerbit, pengenal judul dan angka pemeriksa. Penulisan antara setiap bagian pengenal dibatasi oleh tanda penghubung, seperti contoh berikut:

ISBN 978-602-8519-93-9

    • Untuk terbitan cetak, ISBN dicantumkan pada:
      • Bagian bawah pada sampul belakang (back cover)
      • Di balik halaman judul (halaman copyright)
      •  Punggung buku (spine) untuk buku tebal , bila keadaan memungkinkan
  • Penerbit wajib melengkapi laporan penggunaan ISBN (untuk ISBN-ISBN terdahulu) sebelum meminta ISBN yang baru.
  • ISBN dapat diajukan melalui email (isbn@pnri.go.id), online (http://isbn.pnri.go.id), atau datang langsung ke Perpustakaan Nasional RI dengan melampirkan kelengkapan persyaratan yang telah ditentukan.
  • Jika buku didaur ulang dengan revisi, ada perubahan ukuran, ganti judul, beda sampul (HC/SC), buku berjilid, atau buku baru diterbitkan untuk pertama kalinya, maka perlu memakai ISBN baru.
  • Jika ada perubahan sampul buku, tapi tidak mengubah isi dan ukuran buku, maka ISBN tidak perlu diganti.
  • Setiap buku yang diterbitkan harus mencantumkan Katalog Dalam Terbitan (KDT) yang didapatkan dari Perpustakaan Nasional melalui pengajuan permohonan ISBN dan KDT.
  • Pengajuan ISBN dan KDT dapat digabungkan dalam satu surat permohonan. Untuk ISBN, permohonan bisa diproses dalam 1 hari. Sementara KDT, akan diproses ± 3 hari kerja.
  • Contoh penulisan KDT yang benar:

cara penulisan KDT

  • Jika ISBN sudah diberikan oleh pihak Perpusnas kepada penerbit, kemudian ada perubahan data (judul buku, ukuran, dsb), penerbit harus segera melaporkan ke Perpusnas sebelum buku dicetak.
  • Berdasarkan UU no. 4 tahun 1990, tentang serah-simpan karya cetak dan karya rekam, penerbit wajib menyerahkan karya cetak maksimal 6 bulan setelah buku terbit.

Poin-poin ini sebagai tambahan untuk poin-poin yang sudah ada dan merupakan ketentuan pengajuan ISBN yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional. Nanti kalau gak malas (hehe..), saya share lagi cara pengajuan ISBN di postingan berikutnya 😀

Semoga bermanfaat, ya! 😉

Advertisements

Selamat Ulang Tahun, Ayah.. :)

Ayah..

Hari ini, 44 hari sudah engkau meninggalkan kami, keluargamu, untuk pergi ke tempat yang lebih baik (InsyaAllah, aamiin)..

Pribadimu yang selalu ceria, hangat, penuh tawa, masih jadi omongan di keluarga kita, Yah.. Setiap membicarakan tentang Ayah, orang-orang selalu membicarakan Ayah yang hangat dan membawa tawa untuk semua.. 

44 hari engkau pergi, tak pernah sehari pun aku tak merindukanmu. 44 hari engkau pergi, kami selalu mengingatmu setiap hari, Yah.. Dan akan selalu mengingatmu hingga nanti.

Hari ini juga, genap 62 tahun umurmu. 62 tahun yang kau isi dengan penuh canda tawa. Engkau selalu membawa suasana gembira di sekitarmu, setidaknya itu yang aku dengar dari orang-orang yang dekat denganmu..

Selamat ulang tahun, Ayah.. Tenang di sana, ya.. Adek sayang dan kangen Ayah :’)

us..

Let there be fight,

Let there be fun,

Let there be laugh,

Let there be cry,

Let there be kiss,

Let there be miss,

Let there be hugs,

Let there be love,

Let there be you,

Let there be me,

Let there be …

us …

And the love between..  :’)

Jangan Mengandalkan Saya!

Ya, jangan mengandalkan saya dalam urusan menentukan arah, atau Anda akan tersasar! Dan dengan segala kerendahan hati saya mengakui bahwa saya mengidap buta arah, heuheu.. Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya, pasti sudah hafal dengan kelemahan saya yang satu ini. SERING NYASAR. Pun ketika mengunjungi tempat yang sudah lumayan sering saya kunjungi, masih ada kemungkinan saya nyasar, hihi..

Karena kelemahan itu, akhirnya saya lebih suka berpergian sendiri ketika harus muter-muter di daerah yang baru. Atau, kalau pun mengajak teman, biasanya saya akan menyerahkan sepenuhnya kepada teman saya untuk menentukan arah yang mau dituju. (agak gimana gitu ya kalimat yang terakhir, hihi..)

 

Saking akutnya penyakit buta arah yang saya alami, pernah saya nyasar di perjalanan kantor—kosan (yang rutenya selalu dilewati setiap hari selama 3 tahun) ketika pertama kali mengendarai motor ke kantor. Parah banget kan? Hihi.. Untungnya waktu itu sendirian 😀

Sebenarnya saya sudah berusaha untuk “mengobati” penyakit ini. Tapi, sampai sekarang masih belum sembuh. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk meminimalkan kelemahan saya yang satu ini. Dari mengingat-ingat patokan di setiap perempatan atau belokan yang saya lewati, membuat catatan di hape untuk setiap patokan itu, bahkan menggambar peta jalan yang akan dituju. Entah karena ingatan saya yang kurang atau memang sudah bawaan dari sananya, tapi sampai hari ini, “hobi” nyasar itu masih selalu mengikuti saya.

 

 

 

Seiring majunya teknologi, adanya aplikasi Maps di hape sangat membantu saya. Sekarang, kalo ragu-ragu di jalan, saya cukup melipir dan lihat peta di hape. Etapi, kadang masih bingung juga sih membaca petanya, hihi..

Untuk itu, sekali lagi saya katakan: jangan mengandalkan saya! 😀

Dua Kecupan untuk Maddy..

Sebelumnya saya udah niat mau baca buku ini buat liburan. Pertama, karena udah lama banget ga baca novel. Kedua, karena kesan temen-temen yang udah baca buku ini hampir sama: lucu, sedih, haru jadi satu.

Image

Ternyata rencana baca buku ini untuk mengisi liburan, malah berubah. Saya jadi mengisi waktu (dari jam 12 siang sampe jam 7 malam) menunggu kedatangan adik saya di bandara dengan membaca buku ini. Syukurlah saya berinisiatif membawa buku ketika liburan 😀

Bab-bab awal menceritakan bagaimana Matt dan Liz bertemu, merangkai cinta, hingga akhirnya menikah, dan Liz hamil. Semuanya diceritakan dengan kocak oleh Matt. Bagaimana dia menyelipkan lelucon garing ketika Liz mengomelinya, bagaimana dia berubah dari orang yang pesimis menjadi orang yang optimis ketika Liz terpuruk dan putus asa dengan keadaannya yang harus menjalani tirah-baring selama lima bulan. Semua diceritakan dengan ‘asik’ oleh Matt.

Plot berubah menjadi lebih tegang, ketika Maddy (panggilan untuk Madeline) lahir prematur dan selang 27 jam kemudian Liz meninggal karena eboli paru tanpa sempat menggendong bayi cantiknya. Bab ini cukup membuat perasaan campur aduk. Antara gembira akhirnya Maddy bisa lahir dengan selamat, namun sedih karena ibunya harus meninggalkan bayi mungil yang cantik ini tanpa sempat menggendongnya. Ya, bagian ini cukup membuat mata saya berkaca-kaca dan hati menjadi terenyuh 😥 (yang akhirnya segera berusaha menghilangkannya karena ingat lagi ada di bandara, heuheu..)

Rasa haru muncul lagi ketika Matt dengan tegarnya memilihkan daftar lagu yang harus diputar untuk pemakaman Liz kemudian menuliskan perasaan terdalamnya dengan cara yg begitu gamblang (hal. 164). Apalagi ketika ia berusaha untuk tidak menangis saat mengucapkan salam perpisahan untuk Liz di depan teman-temannya (meskipun akhirnya tangisnya tumpah).

Membayangkan kehilangan orang yang kita cintai untuk selama-lamanya saja, saya ga pernah mau. Ditambah harus mengasuh bayi yang masih merah seorang diri. Matt benar, yang ada di kepala setiap orang adalah ‘aku sangat senang itu bukan suami/istriku’. (hal. 148)

Namun, di balik kegalauannya, Matt tetap berusaha keras menjadi ayah yang hebat bagi Maddy. Cara dia menghadapi Maddy yang tiba-tiba muntah di kaosnya dengan sukses. Bagian di mana dia menceritakan cara menyiasati celana Maddy yang kebesaran ketika berpergian naik pesawat, sukses membuat saya tersenyum. Bagaimana dia mengesampingkan dorongan obsesif-kompulsif pra-bayinya yang meliputi keengganan berurusan dengan anak kecil berantakan dengan wajah kotor ketika Maddy mengotori tangan dan melumuri mereka berdua dengan kue ulang tahun, saya rasa patut diacungi jempol.

Image

Image

Saya setuju dengan beberapa komentar teman yang hampir sama. Buku ini mengajak kita tersenyum, tertawa, dan terharu sekaligus. Salah satu kutipan yang saya suka dari Matt, “..setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi kedukaannya masing-masing.” Tapi bukan berarti kita harus terus tenggelam dalam kedukaan tersebut. Dan terakhir, hal yang paling manis menurut saya yang dilakukan Matt adalah “ritual” yang dilakukannya setiap malam sejak Madeline Elizabeth Logelin dilahirkan. Mencium ujung jarinya dua kali dan menyentuhkan ke dahi Maddy. Satu kecupan dari Matt, dan satu dari ibunya, Liz. Satu kecupan untuk apa yang bisa saja terjadi, dan satu lagi untuk apa yang akan terjadi.

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!